Teknologi Meditasi: The Aura
February 21st, 2008
PENYEMBUHAN secara tradisional, baik melalui ramuan herbal atau self healing seperti aromaterapi, meditasi, mendengarkan musik, pergi ke tempat tetirah, sering disebut sebagai “pengobatan alternatif”. Metode semacam itu dianggap bersimpangan dengan pengobatan mainstream
seperti ilmu kedokteran dan pengobatan ala Barat yang moderen.Jika ilmu kedokteran dan pengobatan moderen memakai tolok ukur yang hampir pasti baik untuk diagnosa maupun analisa, pengobatan secara tradisional dan alternatif tidak mempunyai ukuran standar, kecuali apa yang dirasakan oleh pasien dan fakta yang ada.
frog Design berkreasi menggabungkan kedua hal itu dengan menciptakan The Aura: sebuah alat yang mampu membaca aura kita dalam kondisi tertentu, mengukurnya lalu melakukan analisa. Caranya cukup mudah, namun tentu membutuhkan konsentrasi diri untuk hasil yang maksimal. Anda hanya tinggal memegang beberapa benda yang ada di perangkat The Aura, lalu sebuah kamera akan menindai kulit, wajah, kelopak mata, pola pergerakan mata dan elemen-elemen lain yang biasanya dipakai sebagai patokan untuk menentukan aura seseorang.
Alat ini juga dilengkapi dengan pengaman data. Itu karena setiap digunakan, The Aura mampu merekam data-data setiap Anda bermeditasi bersamanya.
Entry Filed under: happyday
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1. baratayudha | February 22nd, 2008 at 12:39 pm
ada cuplikan tulisan di koran tempo 31 agustus 2003 nih;
Tak ada kata putus asa untuk mencari kesembuhan. Begitulah jargon yang diyakini para penderita penyakit berat. Anand Krishna, misalnya. Gara-gara divonis sakit leukemia dan tak mungkin sembuh, dia nekat mencari pengobatan alternatif hingga ke Himalaya pada 1991. Bukan obat yang didapat, Anand justru diberi wejangan oleh seorang guru karismatik: “Kenapa kamu menolak kematian? Kematian merupakan bagian dari hidup. Jangan melarikan diri.”
Kata-kata bijak itu membuatnya sadar bahwa kematian memang bagian dari hidup. Ajaib, sepekan kemudian Anand sembuh dengan sendirinya. “Tidak ada mukjizat, tidak ada jimat, tidak ada mantra, tidak ada apa. Meditasi membuat terjadinya perubahan pada pandangan saya terhadap hidup,” kata mantan pengusaha garmen ini.
Anand, 47 tahun (lahir 1956), memang sudah lama mendalami meditasi. Pada 1970-an, ketika bekerja di Jepang selama kurang lebih dua tahun, dia mulai mengenal ajaran Zen yang mengutamakan meditasi. Setelah berkarier di sejumlah perusahaan dan punya usaha sendiri, pria kelahiran Solo ini lantas mendirikan Pusat Meditasi dan Holistik Anand Ashram.
Tentu ada alasan mengapa ia memilih meditasi sebagai alternatif penyembuhan. Menurut dia, meditasi itu sebenarnya hanya jalan untuk mengakses diri sendiri. Sebab, katanya, “Dalam diri kita sudah ada begitu banyak cara untuk menanggulangi penyakit. Bukan cuma penyakit fisik, tetapi juga mental-emosional.” Dia menjelaskan bahwa setiap orang punya cara untuk mengakses diri. Karena itu, di tempatnya ada berbagai latihan. Namun, tujuannya tetap satu, yakni meniti jalan untuk menemukan penyembuhan dari diri sendiri.
Bagaimana caranya? Kuncinya terletak pada keadaan otak setiap orang. “Otak harus dalam keadaan tenang sekali,” ucapnya. Dari segi medis pun, kalau otak tenang, seluruh badan akan ikut tenang. Begitu pula organ tubuh lainnya seperti pankreas, liver, atau ginjal. Selain itu, kelenjar-kelenjar yang semula berkurang fungsinya lantaran usia, diet yang tidak teratur, atau hal lain, bisa normal kembali. Dalam keadaan rileks, organ maupun kelenjar akan bekerja secara optimal. Proses relaksasi ini otomatis mem pengaruhi mental-emosional sehingga kembali dalam posisi seimbang.
Karena sifatnya lebih pada pengendalian otak, Anand menganggap meditasi bukan sebuah pengobatan alternatif. “Meditasi itu penunjang. Sebab, kalau disebut alternatif, seolah-olah dia bersaing dengan medis,” katanya. Itu sebabnya, Anand tak pernah menganjurkan peserta meditasi untuk berhenti berobat. Malah dia menganjurkan agar setelah meditasi pun seseorang harus tetap di bawah pengawasan dokter. Lebih-lebih bagi yang berpenyakit serius seperti ginjal, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Namun, kalau yang bersangkutan memang tidak butuh obat lagi, tak apa-apa berhenti minum obat.
Jadi, meditasi itu mengajarkan orang untuk melihat kehidupan seutuhnya dan menerima segala sesuatu yang dihadapi. Karena itu, Anand meyakini 70 persen penyakit yang disebabkan oleh stres atau yang dalam keadaan stres bisa kumat (stress related decisive) bisa ditanggulangi dengan meditasi.
Untuk itu, Anand menyiapkan sejumlah program yang diikuti dan dipraktekkan sendiri di rumah. Ada yang berupa program perawatan kesehatan yang diberikan setiap pekan, selama lima minggu. Kemudian ada program-program tambahan seperti neozen reiki, lalu stress management dan yoga. Dalam waktu dekat akan didirikan klinik Ayurveda berdasarkan ilmu pengobatan kuno dari India.
Klinik Ayurveda, menurut Anand, lebih berfokus pada kasus individu. Sistem pengobatannya, selain menggunakan jamu, juga terapi pemijatan. “Bagian-bagian tertentu di badan manusia ada kaitannya dengan saraf otak dan fungsi organ tertentu. Kalau dipijit, dia akan mengaktifkan kembali saraf-saraf,” tutur Anand.
Model seperti itu pula yang dipraktekkan di PGB Bangau Putih. Dalam membantu pasiennya, mula-mula dilakukan deteksi “perabaan tenaga dalam”. Dari situ bisa diketahui penyakit si pasien. Setelah itu baru diterapi dengan pemijatan pada bagian yang sakit. Biasanya, penderita disarankan untuk berolahraga dan minum obat tradisional yang biasanya ditanam di halaman rumah seperti kunyit, bawang, dan daun-daunan.
Menurut Guru Besar PGB Bangau Putih Gunawan Rahardja, 43 tahun, ia mulai mengembangkan pengobatan alternatif sejak 1992, tapi baru sebatas untuk lingkungan sendiri. Namun, setelah banyak yang meminta, pada 1996, akhirnya dia menerima pasien dari luar. “Semula cuma satu orang, lalu jadi 10 orang. Wah, banyak juga. Sekarang malah 100 orang,” kelakar ahli waris PGB Bangau Putih ini.
Dari hari ke hari, jumlah pasien yang datang terus membludak. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara seperti Belgia dan Jerman. Meski sudah ribuan orang sudah ditolongnya, Gunawan enggan disebut sebagai penyembuh. Menurut dia, pasien sendiri yang bisa mempercepat penyembuhannya.
“Mohon diingat, bukan saya bisa menyembuhkan, saya hanya menolong,” katanya. Untuk itu, ia minta agar pasiennya mau mengatur makanan sekaligus menaati pantangan yang disarankan. Selain melalui proses pengobatan, sejak setahun lalu PGB Bangau Putih memperkenalkan jurus silat kesehatan. Adapun jurus yang diajarkan meliputi sembilan gerakan dan tiga pernapasan. Semuanya diarahkan untuk pencegahan penyakit.
2. febri | January 1st, 2009 at 3:44 pm
beli dimana mas jaket batik tuh ya ?